X

Penyebab tertipu itu karena serakah atau iba

Anda pernah tertipu? Rasanya setiap orang pernah tertipu. Hanya skala besar kecilnya saja yang berbeda. Kita bisa tertipu oleh teman, oleh saudara atau bahkan oleh orang yang memang berniat menipu kita.

Pada salah acara di stasiun televisi (saya lupa tanggal, nama acara dan stasiun TV nya) seorang pesulap (ahli hipnotis)  Romy Rafael pernah mengungkapkan tentang penyebab tertipu :

Hanya dua hal yang bisa menyebabkan seseorang kena tipu.

Yang pertama: Teripu karena dibangkitkan rasa serakah.

Yang kedua : Tertipu karena dibangkitkan rasa iba.

Menurut saya, Romy Rafael sangat jitu dengan ungkapannya diatas. Dari berbagai kasus penipuan yang saya amati (di media) memang kalau dirunut ujung-ujungnya cuma 2 hal diatas.

Penyebab Tertipu

Penyebab tertipunya banyak nasabah dalam berbagai investasi misalnya. Mereka itu semua tertipu gara-gara serakah (dibangkitkan rasa serakahnya). Yang tertipu pasti mereka yang tergiur dengan keuntungan investasi yang sangat besar. Rasa serakah muncul dengan sendirinya dikala mendapat iming-iming.

Saya punya kisah pribadi yang mewakili kedua sifat diatas.

1. Tertipu karena rasa iba

Penyeban tertipu karena rasa iba.  Ini bentuknya macam-macam. Berikut kisah yang saya alami.

Kejadiannya sekitar tahun 2005. Saya sedang ada keperluan ke Surabaya. Tepatnya saya punya urusan di sekitar Pasar Turi. Setelah menyelesaikan urusan, saya hendak menuju Malang, ke rumah salah seorang teman kuliah. Saya naik bis kota di jalan Semarang (di depan stasiun kereta api Pasar Turi). Saat saya naik bis kota (sekitar jam 2 siang) kondisi bis kota masih kosong. Hanya ada 2-3 penumpang saja. Bis kota perlahan merambat menuju terminal Bungur Asih. Bis kota sering berhenti karena ada penumpang yang mau naik atau turun.

Saya mendengar ada ibu bersama anak naik dan duduk kira 4 bangku di belakang saya.  Saya cuma kira2 saja, karena penumpang masih sepi sehingga pembicaraan dia dengan anaknya terdengar sampai ke tempat saya. Selang beberapa saat, si ibu tadi bersama anaknya pindah duduk ke samping saya.  Mulailah dia mengajak saya nobrol ini itu. Sampai akhirnya dia ceritakan kisahnya bahwa dia ditelantarkan suaminya di Surabaya. Ingin pulang ke Kediri tapi tidak punya uang. Tentunya dia bercerita dengan bumbu ini itu. Saya rada lupa dengan bumbunya karena kejadiannya sudah lama 😀

Saya mendengarkan saja sambil sesekali menyahut ala kadarnya. Bis kota mulai makin sesak oleh penumpang dalam perjalanan menuju terminal Bungur Asih.  Singkat cerita, si ibu tadi berhasil membuat saya iba dengan kisahnya. Ditambah pula dia membawa anak yang masih kecil. Saya sempat berpikir si ibu ini pasti ngarang. Tapi hati kecil saya juga berargumentasi “bagaimana jika ternyata apa yang diceritakan benar adanya. Kasihan kan…”

Walhasil, sesampai di terminal Bungur Asih, semua penumpang turun. Ibu tadi turun lebih dulu dari saya.  Setelah saya turun, sambil melihat si ibu tadi berjalan di depan saya, saya akhirnya mengambil keputusan. Saya rogoh dompet. Saya ambil 25 ribu. Saya susul ibu yang di depan itu. Lalu saya berikan uang 25 ribu itu buat ongkosnya ke Kediri. Saya terus ke peron, tidak lagi melihat kiri kanan. Lalu masuk terminal dan naik ke Bis  jurusan Malang. Saya tidak tahu si ibu tadi sekarang ada dimana.

Dalam perjalanan ke Malang, saya sempet berpikir “si ibu tadi mungkin saja menipu dengan ceritanya” Tapi ya sudahlah. Jika dia bener menipu, maka saya rugi 25 ribu. Namun jika kisahnya benar, tentunya uang 25 ribu bantuan saya tadi sangat berarti buat dia.

Sesampai di rumah teman saya di Malang, saya sempat utarakan kejadianya ini ke teman tersebut. Jawabannya spontan dan singkat :

“Kamu kena tipu”

Saya agak kesal ketika dia langsung bilang begitu. Seperti seolah-olah dia mengatakan bahwa saya ini tolol. Namun setelah sadar bahwa teman saya ini termasuk penguasa terminal Bungur Asih (dia cukup lama berjualan di Bungur Asih dan bergaul dengan preman disana sebelum akhirnya mapan dengan bisnis distributornya di Malang), tentunya dia banyak tahu karakter orang-orang di terminal. Teman saya ini bilang,

si ibu tadi abis naik bis kota dan turun di terminal akan naik bis kota lagi. Mencari target baru lagi dan menceritakan kisah-kisahnya yang sama lagi.

Saya cuma menggerutu saja. Busyet…Pinter banget akting si ibu tadi. Untung cuma tertipu 25 ribu 😀

2. Tertipu karena rasa serakah

Penyebab tertipu karena rasa serakah. Ini bentuknya juga beragam. berikut kisah yang saya alami.

Sekitar pertengahan tahun 2011, saya sedang memasarkan rumah salah seorang. Itu adalah awal-awal saya terlibat dalam memasarkan property (bahasa kerennya Agen Property, bahasa sehari-harinya adalah Broker atau Makelar Property 😀 ). Saya memasarkan dengan salah satu cara yaitu beriklan di internet. Saya pasang iklan di dua tempat situs gratisan (memasang iklan gratis di website) yaitu di Berniaga dan TokoBagus.

Selang beberapa hari mulai ada telpon masuk. Ada yang sekedar bertanya lebih rinci, ada juga broker yang menelpon ingin ikut memasarkan. Dan pada suatu hari yaitu hari Minggu, saya sedang menunggu anak saya yang sedang latihan tari. Ada telpon masuk. Bunyi pembicaraan yang disampaikan saya rangkum seperti ini :

“Mengenai rumahnya saya sudah cocok, saya mau transfer 10 juta dulu biar ga diambil orang lain”

Saya panik. Antara harap dan lugu 😀 . Saya masih awam tentang pemasaran properti. Telpon dari orang itu langsung memberi harapan. Maklum saja kala itu saya lagi butuh uang banget (ga usah detail yaaa….malu boooo 😀 ). Logika saya mengatakan “ah ga mungkin. blum lihat barangnya kok sudah mau transfer uang”. Tapi tertekan oleh kepepet uang, telpon orang tadi saya anggap sebagi peluang.

Orang tadi menelpon lagi, minta nomor rekening saya. Saya jawab, sebentar saya pulang dulu lihat buku tabungan. Saya lalu pulang, melihat buku rekening BNI. Kemudian menelpon balik orang tadi. Saya berikan nomor rekening saya.

Selang 10 menit dia menelpon “sudah saya transfer, silahkan di cek ke ATM”

Sekita saya tersentak. Wah….bakal punya duit nih. Kalo dia batal ga jadi beli, toh sudah transfer 10 juta. Otak saya saat itu hanya berisi mimpi dapat uang. Mengalahkan akal sehat.

Saya lalu ke ATM BNI yang ada tidak jauh dari lokasi rumah. Setelah saya cek saldo ternyata saldo tidak berubah. Saya telpon orang tadi “belum masuk tuh”. Dia jawab “masa sih. emang tadi saldo ada berapa?” Jiah….lah kok nanyain saldo saya sebelumnya. Tapi polos saya jawab ada sekitar 100 rb (uppsss ketahuan dah gua bokek 😀 )

Lalu dia menanyakan “ada ngga nomor rekening yang lain, BCA misalnya. Tadi mungkin ada gangguan di BNI”. Saya percaya saja. Saya lalu pulang lagi, buka buku tabungan BCA lalu saya telpon orang tadi dan memberikan nomor rekeningnya.

Dia menyuruh saya langsung ke ATM BCA. Nanti dia telpon dalam 15 menit. Saya lalu ke ATM di kantor BCA. Saya cek saldo juga tidak berubah. Lalu saya keluar ATM, dan menunggu telpon di luar ATM.

Tidak lama kemudian dia menelpon, menyuruh saya masuk ATM. Dia menuntun “masukkan kartu ATM, lalu pilih menu Phone Banking, lalu masukkan nomor pin 081xxxxxxxxxxxx”

Jreeeeennnngggg, seketika saya baru ngehhhhhh.  pin yang disuruh masukkan itu kan nomor telpon dia. Saya baca baik-baik tulisan yang ada di ATM BCA yang mengatakan :

Pastikan anda memasukkan no HP anda.

Nah loooooooo…… 😀

Akhirnya saya cancel dan saya ambil ATM BCA, lalu saya bilang “dasar penipu”. Panggilan telpon saya putus. Dia tidak menelpon lagi.

Saya jadi paham, kenapa banyak orang yang ludes isi rekeningnya. Kadang ada pemberitaan rekening BCA di jebol, rekening Mandiri di jebol, rekening BNI di jebol  dan lain-lain.  Orang yang sedang terbuai mimpi bakal dapat uang (apalagi banyak pula) tidak menyadari bahwa

saat memasukkan pin sama dengan menyerahkan phone banking ke nomor telpon orang

Untung saat itu saya masih jeli…Kalo ngga, isi rekening yang beberapa ratus ribu ludes dah 😀

3. Diantara dua penyebab tertipu, yang mana yang terjadi lebih banyak?

Dalam banyak kasus sehari-hari, tertipu karena rasa iba memiliki resiko dan jumlah nominal yang relatif kecil dan tidak melibatkan korban dalam jumlah yang masal. Orang yang memberi (tertipu) karena rasa iba cendrung memberi se “ikhlas” nya. Lain halnya jika tertipu karena rasa serakah. Cendrung melibatkan orang banyak dan bisa melibatkan uang yang juga banyak.

Iming-iming pekerjaan bagus, investasi bagus, bekerja di luar negeri, dapat hadiah dan lain-lain yang secara dibawah sadar sesungguhnya rasa serakah kita yang dibangkitkan.

Categories: Penipuan
Tags: Bis KotaIbaKartu ATMKena tipuSerekahSurabayaTerminal Bungur AsihTertipu
Edison Sutan Kayo :